The Hindsight Bias

perasaan seolah-olah kita sudah tahu hasilnya sejak awal setelah kejadian terjadi

The Hindsight Bias
I

Pernahkah kita menonton film misteri bersama teman, lalu saat identitas sang pembunuh terungkap di layar, salah satu dari kita tiba-tiba berteriak dengan penuh percaya diri? Biasanya kalimatnya berbunyi seperti ini: "Tuh kan! Dari awal saya sudah curiga sama dia!" Kita mungkin tersenyum mendengarnya. Padahal, setengah jam yang lalu, orang yang sama menuduh karakter yang sama sekali berbeda. Atau, coba ingat-ingat saat kita sedang menonton pertandingan sepak bola. Saat seorang pemain gagal mengeksekusi penalti, mendadak seisi ruang tamu berubah menjadi pelatih profesional. Kita serempak berkata, "Sudah kelihatan dari cara dia berlari, pasti tidak akan masuk." Ini adalah fenomena yang sangat lucu, sekaligus sangat manusiawi. Kita semua pernah melakukannya. Kita merasa seolah-olah kita memegang skrip masa depan, tepat setelah masa depan itu menjadi masa lalu.

II

Fenomena merasa paling tahu ini tidak hanya terjadi di ruang tamu atau bioskop. Mari kita mundur sejenak dan melihat panggung sejarah yang lebih besar. Setelah krisis keuangan global tahun 2008 meledak dan menghancurkan pasar, tiba-tiba bermunculan ribuan pakar ekonomi dadakan. Mereka tampil di berbagai wawancara televisi dan menulis artikel panjang. Argumen mereka seragam: "Tanda-tanda kehancurannya sudah sangat jelas." Padahal sebelum krisis benar-benar terjadi? Hampir tidak ada yang membunyikan alarm bahaya. Hal yang sama terjadi setelah tragedi kapal Titanic tenggelam, atau setelah serangan Pearl Harbor. Begitu debu peperangan dan tragedi mereda, semua orang tiba-tiba memiliki pandangan yang jernih. Semua orang mendadak menjadi cenayang. Mengapa hal ini terus berulang sepanjang peradaban manusia? Pasti ada sesuatu yang aneh sedang terjadi di balik tempurung kepala kita. Sesuatu yang diam-diam memanipulasi cara kita melihat kenyataan.

III

Pada tahun 1975, seorang peneliti psikologi bernama Baruch Fischhoff merasa sangat penasaran dengan misteri ini. Ia merancang sebuah eksperimen yang kini menjadi legenda di dunia sains. Fischhoff mengumpulkan sekelompok orang dan meminta mereka memprediksi hasil dari sebuah kunjungan diplomatik bersejarah yang belum terjadi. Beberapa waktu kemudian, setelah kunjungan itu selesai, ia mengumpulkan mereka kembali. Fischhoff lalu meminta mereka mengingat apa tebakan awal mereka sebelum kejadian. Hasilnya sungguh mengejutkan. Mereka yang tebakan awalnya salah, secara otomatis merevisi ingatan mereka agar lebih mendekati hasil kenyataan. Mereka benar-benar yakin bahwa sejak awal tebakan mereka sudah benar. Seolah-olah ada tangan tak kasat mata yang menghapus dokumen di otak mereka dan menulis ulang kisahnya. Pertanyaan besarnya: apakah kita memang sengaja berbohong agar terlihat lebih pintar dari orang lain? Ataukah otak kita secara biologis memang tidak mampu membedakan apa yang kita ketahui sebelum kejadian dan setelah kejadian? Mengapa sistem ingatan manusia begitu rapuh namun terasa begitu meyakinkan?

IV

Mari kita bedah misterinya, teman-teman. Dalam psikologi kognitif dan ilmu saraf neurosains, fenomena ini dikenal dengan nama the hindsight bias atau bias retrospeksi. Ini bukanlah sebuah kebohongan sosial yang disengaja. Ini adalah cara kerja biologis otak kita yang sangat canggih. Kita harus paham bahwa otak kita bukanlah mesin perekam video yang menyimpan data secara objektif. Otak kita adalah sense-making machine, sebuah mesin pembuat makna. Saat sebuah peristiwa mengejutkan terjadi, otak kita langsung bekerja keras memperbarui database ingatan. Otak mengambil informasi baru dari hasil kejadian, lalu mencampurnya dengan ingatan lama. Detail yang tidak cocok akan dibuang, dan kepingan yang pas akan dirangkai menjadi satu garis cerita yang masuk akal. Mengapa otak melakukan ini? Jawabannya adalah bertahan hidup. Di alam liar zaman purba, ketidakpastian adalah ancaman mematikan. Leluhur kita harus merasa paham akan hukum sebab-akibat di lingkungannya. Dengan menciptakan perasaan "aku-sudah-tahu-dari-awal", otak menyuntikkan rasa aman dan kendali. Otak rela menipu memori kita sendiri, semata-mata demi menurunkan kecemasan dan menjaga kewarasan kita dalam menghadapi dunia yang acak.

V

Lalu, apa artinya fakta ilmiah ini bagi kehidupan kita sehari-hari? Sederhana saja: ini adalah undangan bagi kita untuk lebih berdamai dengan masa lalu. Sering kali, kita menghukum diri sendiri terlalu keras atas kesalahan yang sudah terjadi. Kita meratap di malam hari, "Seharusnya saya tahu investasi itu bodong!" atau "Seharusnya saya sadar dari awal kalau hubungan ini akan gagal berantakan!" Berhentilah menyiksa diri, teman-teman. Kebenaran yang sesungguhnya adalah: pada saat itu, dengan informasi yang terbatas, kita tidak tahu. Dan itu sangat wajar. Masa lalu selalu terlihat sangat jernih dan masuk akal karena kabut ketidakpastiannya sudah menyingkir. Memahami hindsight bias mengajarkan kita tentang empati dan kerendahan hati secara intelektual. Kita manusia biasa yang tidak bisa melihat masa depan. Namun, kabar baiknya, kita selalu bisa belajar memaafkan diri sendiri. Kita bisa melangkah menjadi lebih bijak di hari ini, tanpa perlu berpura-pura menjadi peramal hebat di masa lalu.